Sistem Shift Angkot Bogor Akan Dikaji Ulang


Rasanya Program pembagian shift pada angkot Bogor belum efektif, kemacetan masih banyak terjadi diberbagai jalan di kota Bogor, selain itu banyak juga supir angkot yang melanggar jadwal jam operasi, buktinya kalau siang hari bertebaran angkot dengan beraneka shift, shift A, shift B dan shift C. Dengan keadaan seperti itu maka sudah sepatutnya kebijakan pembagian shift dikaji ulang.

Seperti ditulis www.pikiran-rakyat.com program pembagian operasi (shift) angkutan kota (angkot) yang sudah diterapkan di Kota Bogor dalam kurun waktu setahun belakangan ini akan dikaji ulang. Pasalnya, meski telah berhasil mengurangi jumlah angkot yang beroperasi, kemacetan sejumlah ruas jalan di Kota Bogor akibat ulah sopir angkot masih saja terjadi.

Plt Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor, Ade Syarief Hidayat, Selasa (22/2) mengatakan untuk tahun 2011 ini, pihaknya merencanakan tidak ada lagi angkot yang dikenakan shift. Sebab, target shift hingga 2011 hanya lima angkot, sehingga total trayek yang diberlakukan shift hanya 10 angkot. “Kita akan kaji ulang penerapan sistem shift yang sudah kita berlakukan selama setahun terakhir. Kita juga tidak akan memaksakan penambahan trayek lagi sebab program ini untuk mengatasi kemacetan di Kota Bogor,” ujar Ade.

Menurut dia, penerapan program shift angkot yang sudah berjalan setahun lebih ini, awalnya untuk mencari solusi efektivitas angkot di Kota Bogor. “Kalau ternyata banyak diberlakukan shift angkot tapi tidak efektif, buat apa?” lanjutnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengklaim angkot yang dinilai sebagai penyebab kemacetan di Kota Bogor telah berkurang. Walikota Bogor, Diani Budiarto, sempat mengatakan selama satu tahun terakhir (2010), angkot yang beroperasi sehari-hari di Kota Bogor berkurang sekitar 993 unit. Pengurangan jumlah angkot ini terjadi setelah Pemkot Bogor melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika memberlakukan sistem shift. Pengurangan jumlah angkot, kata Diani, juga karena pencabutan izin angkot serta penghapusan bemo.

Secara rinci dikatakan Diani, sistem shift yang diberlakukan di wilayah Barat dan Timur Kota Bogor telah menurunkan jumlah angkot yang beroperasi hingga 657 unit, sedangkan angkot yang izinnya dicabut 96 unit, dan bemo yang dihentikan pengoperasiannya 240 unit. Meski demikian, meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang ada di Kota Bogor pun menjadi tantangan baru bagi Kota Bogor. Sebab, sampai sekarang pengadaan angkutan massal melalui Trans Pakuan pun belum menunjukkan pengaruh yang besar terhadap pengurangan kendaraan pribadi.

Secara terpisah, Kepala Satlantas Polresta Bogor Ajun Komisaris Syarif Zaenal Abidin mengatakan jumlah kendaraan di Kota Bogor berdasarkan pengurusan kepemilikan kendaraan bermotor memang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data pada Kantor Samsat Kota Bogor menunjukkan pada 2010 jumlah pengurusan kendaraan oleh masyarakat untuk kendaraan roda dua sebanyak 206.845 kendaraan dan roda empat sebanyak 50.231 kendaraan.

Jumlah ini, kata Syarif, meningkat dibandingkan tahun 2009 yang hanya 173.724 untuk kendaraan roda dua dan 46.213 untuk kendaraan roda empat. “Ada tren kenaikan setiap tahunnya, kepemilikan kendaraan bermotor di Bogor. Berdasarkan data dari Samsat jumlah kendaraan yang mengurus izin meningkat rata-rata sekitar 19 persen,” katanya.

Menurut Syarif, kepadatan arus lalu lintas di Kota Bogor disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan yang tidak didukung oleh peningkatan sarana dan prasarana yang ada, misalnya pelebaran jalan. (A-155/das)***

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: